Kamis, 25 Februari 2010

Diponegoro dalamTari Sardono

Opera Diponegoro, Penari dari Sardono Dance Theatre beraksi dalam gladi bersih Opera Diponegorokarya Sardono W Kusumo di Teater Salihara, Jakarta, kemarin. Karya yang menceritakan perjalanan Pangeran Diponegoro itu pernah dipentaskan di Muslim Voice Festival New York (2009) dan akan dipentaskan kembali pada 19-20 Februari 2010. Koreografer senior Sardono W Kusumo kembali menampilkan Opera Diponegoro. Sosok pahlawan asal tanah Jawa itu ia ceritakan kembali dalam lakon penangkapan Diponegoro. Panggung teater Komunitas Salihara ditutup kain bergambar lukisan penangkapan Diponegoro. Lukisan karya Raden Saleh itu menjadi semacam sekat antara penonton dengan penari sekaligus menjadi bagian penting dalam pertunjukkan ini.

Lukisan itu menjadi bagian penting, karena ia akan membantu penonton menelusuri aluralur makna dari karya yang dipentaskan. Lebih membantu lagi, ketika sejarawan Inggris Peter Carey yang mendalami Babad Diponegoro versi Surakarta didapuk sebagai pemandu untuk menjelaskan lukisan tersebut kepada penonton.

Penjelasan dari Peter Carey ini membuat penonton lebih gamblang dengan jalan cerita opera yang disajikan Sardono W Kusuma beserta penaripenarinya— karena memang penari ini sekaligus melagukan tembang babad itu dalam setiap dialognya menggunakan bahasa Jawa. “Lukisan yang terpampang di depan sekaligus sebagai visualisasi penonton untuk memahami cerita.

Peter Carey membantu menerangkan adegan lukisan penangkapan Diponegoro itu,” papar Sardono W Kusumo kepada wartawan. Setelah Peter Carey menerangkan arti lukisan yang dilukis Raden Saleh (1887),serentak lampu sorot yang menerangi lukisan meredup. Bersamaan dengan itu, muncul penari di panggung yang tertutup layar. Perhatian penonton lantas terfokus kepada gemulai penari.

Unik memang, karena panggung jadi semacam pertunjukkan wayang dengan penari yang bergerak menari di dalam panggung yang tertutup layar bergambar transparan. Koreografi karya Sardono W Kusumo mengambil gaya drama teater Jawa yang biasa disebut langendriyan. Drama seperti ini sering dipentaskan dalam masa lampau dengan menampilkan sekaligus menembang seiring musik gamelan yang ditabuh.

Bedanya, Sardono menampilkan penari yang bergerak gemulai dengan penari yang terus menembang dengan lirik narasi/libreto yang diambil dari otobiografi Diponegoro yang ditulis di masa pembuangannya di Sulawesi. Pementasan kisah kepahlawanan Diponegoro di Komunitas Salihara itu sebetulnya bukan yang pertama kali.Karya yang sama pernah dibawakan tahun lalu di Keraton Yogyakarta.

Walaupun pernah dibawakan, karya tersebut selalu terpikat. Selalu ada jalan keluar untuk menghindari kejenuhan penonton dalam menikmati dan menyerap makna Services dari pertunjukan. “Karya ini sebetulnya pernah dipentaskan di Keraton Yogyakarta 2008 silam.

Namun, waktu itu kita mengerahkan 200 penari. Naskah ceritanya pun sedikit lebih panjang dan naratif. Bedanya, saat ini kita hanya butuh lima penari,” tandas Sardono Dalam Opera Diponegoro ini, kelima penari yang tampil, yakni Mugiyono Kasido, Hanny Herlina, Fajar Satriadi, Rambat Yulianingsih, dan Sardono W Kusumo.

Sementara itu, untuk tata musik dipercayakan pada Waluyo Sastro Sukarno dan dimainkan oleh Darno Kartawi dan Danis Sugianto. Sesuai dengan ceritanya, tata musik Opera Diponegoro menjadi sangat unik karena ada penggabungan antara musik gamelan Jawa dengan unsur musik klasik. Mula-mula, musik klasik menjadi pembuka dengan gerak penari yang seperti berada dalam belenggu penjajahan.

Lalu pelan-pelan narasi cerita bergerak menuju adegan- adegan dengan tembang sinom yang menjadi prelude kisah Diponegoro di tanah Yogyakarta. Kisah pun mengalir bersama peralihan dan ritme musik. Gerak gemulai para penari seakan merajut cerita dan membangun makna. Sekadar diingat, manuskrip versi Ngayogyakarta yang menjadi inspirasi awal narasi ini, ditulis dengan aksara Pegon, yakni aksara berbahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab.

Panjang narasi beraksara Pegon ini lebih dari 800 halaman.Gabungan antara musik klasik, gamelan Jawa bahkan rebana dalam balutan syair Islam membuat warna yang sangat berbeda. Pertunjukkan ini memang diangkat dari cerita Babad Diponegoro versi Yogyakarta dan Surakarta rujukan lukisan bertajuk Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh dan hasil riset panjang dan diskusi dengan Peter Carey.

Pada versi Yogyakarta,dipaparkan adalah kisah tentang biografi Diponegoro, sedangkan versi Surakarta berisi cerita perang dan perjuangan Diponegoro saat itu. Dari kedua babat itulah –babat versi Yogyakarta dan versi Surakarta– Sang koreografer Sardono meramu cerita yang dituangkannya lewat karya tari. “Dari dua babad itu kemudian saya rangkum dan saya tafsirkan menjadi opera Diponegoro,” ungkap Sardono.

Untuk merancang opera dengan kisah yang berasal dari jaman penjajahan itu, Sardono tidak hanya menggunakan unsur-unsur tari tradisional Jawa saja. Agar lebih hidup dan aktual, unsur-unsur tari tradisional Jawa pun dibalutnya dengan tari kontemporer. Hasilnya, lukisan terkenal karya Raden Saleh (1807–1880) berjudul Penangkapan Diponegoro yang juga memberi rujukan ikonografis pada karya ini dan mengukuhkan pesan antikolonial yang dikandungnya.

Karena memang,bagi Sardono,Babad Diponegoro dan lukisan Penangkapan Diponegoro merupakan representasi visual dan sejarah yang otentik di mana kisah itu merupakan sebuah perlawanan budaya yang berasal dari masa puncak kolonialisme Belanda. Untuk itu, Sardono mampu menggabungkan semua dalam pertunjukkan yang sarat simbol dan makna historis dalam setiap gerakan penari yang membawakannya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
Copyright © 2013 Karmin All Rights Reserved
Khanza Aulia Shafira Nugroho Kanghari Animal World